Antara Iya atau Tidak (Misteri Kelanjutan Tanda Titik)

Ternyata, tanda titiknya terus berlanjut sampai aku jadi makin gila rasanya. Sudah mencoba mengakhiri tapi setelah tanda titik masih ada saja cerita yang tertulis. Aku khawatir, aku saja yang merasa seperti ini. Merasa hati seperti ada iramanya. Sedangkan kau tidak.

Sudah aku atur sedemikian rupa agar tak terus jatuh, rupanya aku terjungkir terbalik. Sial. Terbawa perasaan (lagi). Padahal aku sudah berusaha untuk tidak melanjutkan saat itu, ya... mau ku diamkan tapi ada celah yang bisa menjadi jalan. Ku ikuti saja alurnya, sampai akhirnya aku di ladang permen, ya.... manis tapi meyebabkan sakit.

Tiba-tiba, berakhir juga cerita itu. Tanda titiknya benar-benar berakhir, ku pikir. Saat-saat itu aku mulai menyibukkan diri seperti biasanya, mencoba tak mengingat, tapi lagi-lagi otak tak sinkron dengan hati. Tetap saja kau muncul.

Ya.... walaupun begitu, aku masih kuat menahan untuk melanjutkan cerita. Ternyata, aku benar-benar labil. Jangan salahkan aku, salahkan si hati. Dia mendorongku untuk mengisi kalimat setelah tanda titik terakhir itu.

Benar saja! Tanda titiknya jadi banyak. Ya... karena ulahku, tunggu... karena si hati.  Dan begitu terus sampai mungkin dua kali kejadian itu.

Sontak saja banyak pertanyaan muncul, semacam "Aku buatmu itu apa?" , "Kenapa terus kau tanggapi?" padahal ku tahu, bukan hanya aku saja cerita ibu jarimu. Aku mudah jatuh hati, namun mudah juga patah hati. Dengan sikapmu yang sulit aku tebak, bagaimana bisa aku masih tetap mencari jawaban? Sungguh aku bingung, seperti masuk ke dalam labirin namun tak menemukan jalan keluar. Seperti terperangkap. Ya... memang aku sendiri yang memaksa masuk.

Sekarang, aku benar-benar ingin tahu. Dihatimu iya atau tidak aku berada disana dengan maksud kau  menganggap aku ada. Aku tak memikirkan tanda titik lagi, aku hanya ingin tahu bagaimana ceritanya terus berlanjut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Lagu "Not in That Way" by Sam Smith

Arti Tanda Titik Sebenarnya

Terbelah Jadi Dua